Pendiam
Oleh: Novy Dwy
Safika

Tidak pernah kusangka sebelumnya bahwa sekarang
aku sudah berstatus menjadi seorang mahasiswa. Apalagi di Universitas Sebelas
Maret. Masya Allah benar-benar lejitan
impian yang menjadi sebuah kenyataan. Padahal sebelum aku lulus dari Madrasah
Aliyah, aku sama sekali tidak terpikirkan untuk masuk di perguruan tinggi yang
semegah ini. Alhamdulillah, aku
sangat bersyukur kepada Allah, dengan segelintir usaha dan segenap tinta
tatihan doaku, Allah telah mengabulkan yang tercarik di hatiku, sebuah alunan
angan yang lucu dan yang semula hanya kuanggap sebagai kicauan kelelahan, namun
ternyata Allah mewujudkan ketidakmungkinan yang terserak lemah di dada. Imposible is nothing, ada Allah.
Namaku Nur Aisha. Seorang remaja muslimah yang
berasal dari kota Ponorogo. Aku adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Dari
semua saudaraku, hanya aku yang akhirnya bisa merasakan bangku perkuliahan.
Paling tinggi kakak-kakakku hanya berpendidikan sampai SMA saja. Dan sekarang
mereka semua sudah berumah tangga. Tinggal aku yang masih setia menjadi
penuntut ilmu hingga sejauh ini. Orang tuaku pun lulus SD saja tidak. Maka
sangat beruntunglah aku bisa menjadi seorang mahasiswa. Harapan yang selalu
membumbung tinggi di atas kepalaku ialah kelak aku ingin menjadi seorang
penulis yang bisa menginspirasi dan menebarkan banyak kebaikan melalui karya
yang aku tuliskan.
“Gimana pengumumannya?” kata seorang perempuan
paruh baya kepadaku, di wajah beliau tersirat harapan yang terbaik untuk
anaknya ini, “Alhamdulillah, Bu, aku lolos.” Ketika itu adalah pengumuman
SBMPTN, tepatnya tanggal 13 Juni 2017. Aku bercucuran air mata, betapa tidak,
aku sungguh terharu, seakan tidak percaya dengan kabar yang baru saja aku
terima. Ada dua hal yang saling beradu di sukmaku sekarang. Aku bahagia bisa
lolos, karena itu artinya impianku untuk kuliah di Universitas ternama di
Indonesia akan segera nyata. Tetapi apakah benar sebentar lagi aku akan merantau?
Meninggalkan kedua orang tuaku yang sudah renta. Apakah aku benar-benar harus
menjauh? Apakah iya? Namun aku pun sempat berpikir. Kalau aku tidak beranjak
dari kampung halamanku, mungkin pemikiranku akan selalu dangkal, tidak memiliki
pandangan yang lebih luas dan lugas lagi. Bahwa merantau akan membuka cakrawala
dunia dalam diri seseorang. Bismillah,
aku akan melangkah, meninggalkan tanah kelahiran, berjuang menggapai cita di tempat
orang, dengan niat lillah.
Pagi itu cuaca cerah, namun hatiku hujan. Seakan
hampa menyambut detik yang akan segera berganti. Aku harus berangkat ke
Surakarta, sebuah kota yang nantinya akan menjadi tempatku bercengkerama dengan
ilmu. “Aku pamit ya, Pak.” Aku mencium tangan lelaki itu dengan basah. Begitu
juga yang kulakukan kepada semua orang yang menyaksikan peristiwaku pagi itu.
Aku tak tahu kapan akan pulang setelah berangkat ke sana. Aku juga belum
berpengalaman hidup seorang diri, aku tak tahu bagaimana untuk menjalani hari-hariku
ketika aku jauh dari keluargaku. Apakah aku akan sanggup? Menjadi seorang
perantau? Biarlah kucoba.
Aku sangat bersyukur, bahwa ketika aku membutuhkan
seorang teman, tiba-tiba Allah memberikan sebuah petunjuk. Tidak kusangka, ada
teman yang dari Ponorogo juga, dan dia pun masuk di prodi yang sama sepertiku, namanya
Tika. Untuk keberangkatan yang pertama, kami memutuskan untuk naik travel. “Sha, kamu kalem banget ya,” ya memang
begitulah, setiap orang yang baru kenal dan baru bertemu denganku, pasti
ungkapan itulah yang selalu aku dapat untuk pertama kalinya. Tidak pernah lain
dan tidak pernah bukan. Dan aku tak punya jawaban lain, selain hanya
membalasnya dengan menipiskan bibirku dan mengangguk seraya memakluminya. Dalam
hati berkata ‘Yah sudah ketahuan...’
Ketika hari pertama agenda mahasiswa baru di
kampus. Aku bersambahan dengan
wajah-wajah baru di sana. Mereka yang sudah kutemui di media sosial sebelumnya,
dan sekarang saatnya bertatap muka. Mungkin ini kesempatan untuk mengubah
diriku dalam pandangan orang lain. Mereka kan belum kenal aku, belum tahu aku,
pasti mereka juga tidak akan mengira tentang kependiamanku. Namun apalah daya,
sedetik duadetik aku bersama dengan mereka, akhirnya terdeteksi juga bahwa aku
memang sering diam. Susah ngoceh, seperti gong, bila tidak ditabuh tidak akan berbunyi.
Berkenalan demi berkenalan, jabat demi jabat,
itulah hal yang selalu dilakukan oleh warga baru. Berusaha mencari kesan yang
murni dengan wajah-wajah yang nantinya akan menjadi pengisi hari-hari
perjalanan panjang ke depan. Aku pun begitu merasakannya. Ketika aku semakin
mempunyai banyak teman baru yang mengitari kehidupanku yang baru juga. Aku
tidak menyangka bisa menjadi perantau, padahal sejak kecil aku dikenal sebagai
orang yang tidak mungkin hidup tanpa orang tua. Tetapi ternyata benar kutipan
dari sebuah novel yang pernah kubaca, bahwa ‘bisa itu karena biasa, dan biasa
karena terpaksa.’ Dan syukurlah pemaksaan yang kutimpakan pada diriku ini telah
membuahkan hasil yang tidak melenceng dari keinginan yang tersirat dalam nuraniku.
Karena menjadi ‘aku’ adalah tantangan. Ya, menjadi
‘aku’ butuh perjuangan yang lebih berjuang. Aku memang berbeda dari kebanyakan
teman-teman di sini. Mereka sudah punya lebih banyak modal daripada aku. Mereka
sudah mengantongi lebih banyak bekal daripada aku. Sementara aku masih harus
membangun jati diriku, terutama tentang suaraku di sini. Aku paham betul, bahwa
tak seharusnya seorang mahasiswa bersifat semacam diriku ini. Sangatlah tidak
memenuhi kriteria untuk disebut sebagai mahasiswa. Aku ingin bisa benar-benar
mendapatkan pengakuan dari hatiku sendiri, bahwa inilah aku, inilah aku seorang
mahasiswa UNS. Aku pantas di sini. Aku pasti bisa.
Tidak seperti sekarang ini, dalam benakku masih
bermunculan kata-kata yang tidak mengenakkan. Aku merasa minder, aku merasa tak
pantas berada di sini. Ah jangan begitu Sha, kamu itu pilihan Allah. Syukuri
apa yang sudah kamu dapat dengan perjuangan membongkar pintu-pintu besi yang
menghadang jalanmu itu. Kamu harus bisa henyak
dari zona nyamanmu. Kamu harus menghentakkan kakimu lebih keras lagi. Yakinkan
dirimu akan kuasa Allah. Apa pun bisa terjadi jika Dia sudah menghendakinya.
Jika kamu meragukan kemampuanmu, itu artinya kamu juga sedang meragukan
kebesaran Tuhanmu. Jadi jangan pernah katakan ‘Aku tidak bisa,’ tetapi katakan
‘Aku akan berusaha.’ Begitulah nasihatku kepada diriku sendiri, aku suka
melakukannya. Aku lebih sibuk mengkritik diri sendiri dan menuliskannya di
kertas putih untuk kutempelkan di dinding kamarku.
Bagaimana caranya untuk melumpuhkan tantangan?
Tanpa kusadari, Allah perlahan mengirimkan para sahabat yang luar biasa. Aku
menemukan dan merasa telah memilikinya di bangku perkuliahan ini. Mereka selalu
memotivasiku, berusaha membangkitkan semangatku untuk mendobrak segala
tantangan di hadapanku. Terima kasih temanku, Kau bagaikan malaikat tanpa sayap
yang selalu ada di sampingku. Kau mau menerima segala kekuranganku. Bahkan Kau
juga telah berhasil membuatku semakin percaya untuk menceritakan segala keluh
kesahku kepadamu. Sebelumnya aku tak pernah memberikan kepercayaan sampai
sejauh ini kepada orang lain, terlebih mengenai konflik yang selalu terjadi
akibat sifat yang melekat pada diriku ini. Dahulu ketika masa sekolah, aku tak
pernah mendapatkan kawan yang semengerti kalian, kalian yang bisa memahami
semuanya tentang aku.
Maaf ya, Kawan, aku memang begini, masih banyak
canggung dan tidak percaya diri untuk bergabung di arena canda tawa yang
biasanya mengepung suasana kelas. Ajari aku untuk bisa melempar canda di antara
obrolan bersama kalian, seperti yang sering kalian lakukan. Aku bingung harus
memulai dari mana untuk mewujudkan keinginanku itu. Yang jelas aku hanya bisa
sesekali tersenyum ketika berada di dalam forum kalian. Sejujurnya di dalam
hati kecilku aku berkata ‘kapan ya aku bisa seperti itu, ngobrol-ngobrol seru,
ketawa sama teman, sekadar hal yang sesederhana itu adalah impianku,’ bukan
berarti aku tidak bisa kan menjadi orang yang seasyik itu? Sungguh konyol, mungkin
bagi kalian, impian untuk bisa ngomong
sama teman itu sangatlah tidak masuk akal. Aku maklum, karena bagi kebanyakan
orang, hal itu bahkan tidak penting untuk dibahas. Tetapi bagiku, itu adalah
masalah besar. Kuharap suatu saat impian kecilku itu bisa terwujudkan, entah
bagaimana pun caranya.
Di kejayaan kelas yang sedang mengelupas, aku merasakan, bahwa hanya aku yang tidak berbincang ria bersama teman-teman
di saat jam kosong seperti ini. Aku
bukan tipe orang yang bisa se-enjoy itu menikmati celetukan canda tawa. Allah, kapan aku bisa
seperti itu? Rasa-rasanya aku belum pernah menyatu
dengan suasana yang semacam kebiasaan mereka itu. Aku belum pernah sekali pun bergabung dengan
aliran tanya jawab penuh keceriaan yang biasanya mereka selalu ritualkan setiap
harinya. Ya Allah aku memang
berbeda, karakterku memang
seperti ini, aku belum bisa mengubahnya
dengan cepat. Padahal aku ini calon
guru bukan? Dan bekal utama untuk menjadi seorang guru itu adalah pandai
berbicara dan mengolah suasana. Semoga aku bisa menyelesaikan misiku untuk
memantaskan diriku menjadi seorang guru yang profesional. Semoga Allah
mengizinkan.
“Hai Sha, kok diam saja sih, selama di sini aku
belum pernah tuh dengar suara kamu.” Cindy,
dia menyapaku yang sedang duduk seorang diri di kursi paling depan, saat itu
dosen belum datang, dan kita sedang menunggu beliau yang terlambat. Suasana di
kelas sudah ramai, banyak yang
memanfaatkan momen itu untuk berbincang berbagi cerita, lebih tepatnya saling
mengenal. Tetapi aku malah hanya duduk termenung sendirian dengan sesekali
melihat ke ponselku yang sebenarnya hal itu tidak penting kulakukan, karena
sudah tidak ada yang perlu kucek lagi di situ. Dan sesekali juga aku memutar
bola mataku ke seisi kelas, memandangi setiap gerak-gerik mereka, melayang
sebuah harapan, suatu saat aku akan ada di antara riuhnya obrolan-obrolan itu.
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Cindy.
“Eh ditanya kok malah senyum sih kamu ini, jawab lah Sha.” Dan aku masih
senyam-senyum saja. “Duh jangan-jangan aku salah manggil lagi, kamu beneran
Aisha, kan?” Dia mengira salah menyebutkan nama, ya maklum lah masih suasana
jadi mahasiswa baru, dan perkuliahan juga baru beberapa minggu dilaksanakan.
Jadi ya masih banyak yang belum hafal sama teman-teman seprodi yang jumlahnya
luar biasa banyaknya ini. “Enggak kok, kamu nggak
salah, iya aku Aisha.” Itulah jawaban yang berhasil meloncat dari mulutku. “Kamu
kalem banget ya Sha, pendiam lagi” ‘yahh ketahuan lagi deh’ gumamku dalam hati.
“Tuh kan diam lagi.” Dan akhirnya Cindy
tanya-tanya banyak tentang asalku, dan bla
bla bla, ya biasa lah hal-hal yang sudah sepantasnya dibahas saat suasana
perkenalan.
Pada suatu ketika, aku ditegur oleh dosenku
gara-gara pas presentasi di depan, suaraku sangat kecil volumenya sehingga
tidak terdengar di kelas. Ya Tuhan sebenarnya ke mana sih suaraku. Padahal
ketika tidak berada pada suasana seperti ini, suaraku tidak sedemikian kecilnya.
Tetapi kenapa selalu saja ketika aku berhadapan dengan orang banyak, bahkan
tidak terlalu banyak sekali pun, suaraku selalu lenyap hilang entah ke mana.
Aku sendiri bingung menafsirkan semua ini bagaimana. Yang aku tahu, suaraku
tadinya ada dan tiba-tiba tidak ada. Aku enggak tahu apa sebabnya semua ini
bisa terjadi. Padahal aku selalu mendambakan untuk bisa menjadi seorang
pembicara di depan banyak orang, tepatnya menjadi seorang motivator di masa
depan nanti. Lucu memang, orang sepertiku bercita-cita sebagaimana hal yang
tidak logis seperti itu. Tetapi apa salahnya, bermimpi itu tidak perlu bayar
bukan? Semua orang boleh bermimpi. Semua orang berhak menentukan langitnya.
Begitu pun denganku, aku akan menggapai yang tercantum di langit itu. Aku
berani bermimpi, dan aku masih bisa berusaha.
Aku tidak marah atau pun menyimpan sakit hati
ketika ditegur seperti itu oleh dosenku. Justru aku senang, beliau sangat
peduli kepadaku. Kata-kata nasihat beliau itu memanglah sangat aku butuhkan. Kala
itu aku sempat ingin meneteskan butiran dari mataku ini. Tetapi untung aku
masih bisa menahannya agar tidak terjatuh, terutama saat aku berada di ruangan
yang orang-orang di dalamnya sedang terfokus kepada sosokku. Aku tidak mau
terlihat cengeng dan lemah. Aku harus tersenyum. Terima kasih Bu Dosen,
nasihatmu sungguh berharga, aku akan berusaha semampu dan sebisaku. Aku adalah
calon guru, mustahil kalau aku tidak bisa ngomong,
karena modal utama menjadi guru itu adalah ‘Bisa ngomong!’. Bagaimana nanti aku bisa menyampaikan ilmu kepada anak
didikku, bagaimana aku bisa memberikan benih-benih kasih sayang yang indah
kepada murid-muridku kelak. Sejak dahulu, perkara itu sudah sering sekali
mengoyak pikiranku. Jangan dipikir aku selalu berleha-leha bersama sifat yang
sudah melekat dan menyumbatku ini. Tahukah bahwa aku selalu memikirkan
bagaimana cara terbaik untuk keluar dari zona nyaman. Dan aku yakin, di sinilah
tempatnya, di UNS Allah telah memberikan petunjuk serta jalan-Nya kepadaku.
Terkadang aku juga merasa bingung untuk memosisikan
diriku ini bagaimana. Bahkan untuk sekadar memanggil teman dari kejauhan pun
aku masih ragu. Aku masih takut kalau-kalau suaraku tidak terdengar karena terlalu
lemah. Aku malu pada diriku sendiri jika itu terjadi. Keraguan selalu
menghambatku. Aku lelah menghadapi semua ini. Tetapi aku takkan pernah
menyerah. Karena kuyakin bahwa Allah selalu ada untukku. Allah menciptakanku
seperti ini bukanlah tanpa sebab. Pasti Dia memberikan keistimewaan juga di
antara kesekian kekurangan. Bukankah tiap manusia tercipta dengan kelebihannya
masing-masing? Mungkin Allah tidak selalu menunjukkan keistimewaan itu dengan
serta-merta. Harus melakukan perjuangan dahulu agar bisa membuka tabir jawaban
dan menemukannya, menemukan cahaya yang cemerlang.
Aku pernah ditunjuk untuk bersuara dan
mengungkapkan pendapat oleh dosenku, alhasil yang keluar dari mulutku enggak
terkontrol. Aku kehilangan ketepatan, karena aku begitu grogi dan tidak percaya
diri. Apa yang keluar dari mulutku saja aku bingung itu apa, karena bolak-balik
sebab ketakutan yang meledak kala itu juga. Ya Tuhan, mungkin memang harus
melewati masa-masa sulit dahulu untuk bisa berada di sebuah istana yang megah.
Aku percaya bahwa Engkau tengah menuntunku sekarang. Aku percaya tentang
cinta-Mu yang selalu menghinggapi napas-napas yang berembusan dari celah-celah
lobang hidungku. Ya, aku akan selalu percaya.
‘Itu kan Salma, temanku kan, teman di Bastind,
sapa nggak ya, sapa atau enggak, duh
keburu hilang.’ Dan akhirnya aku tidak jadi menyapanya. Oh menyesal rasanya,
kenapa harus kelamaan mikir, hanya
untuk sekadar mengatakan salam atau ‘Hai’ saja. Aku benar-benar kecewa kepada
diriku sendiri. Dan bukan hanya sekali duakali, tetapi sudah lebih dari itu aku
merasakan kekecewaan. Aku tidak suka. Saat latihan bicara sendirian di kamar
saja bisa selancar dan sebanyak itu kata-kata yang keluar dengan spontannya
dari lisanku. Tetapi ketika berhadapan dengan orang lain, aku selalu merasa
kikuk dan gagu tiada henti. Bahkan hanya untuk satu kata saja, itu terasa berat
seberat rindunya Dilan kepada Milea. Aku tidak mengerti ada apa sebenarnya
dengan diri ini.
Aku adalah pilihan, dan begitulah adanya.
Teman-temanku di masa sekolah dahulu kebanyakan memilih untuk bekerja setelah
tamat sekolah. Dan hanya beberapa butir yang masih memilih ilmu lagi untuk
mengobati dahaganya. Dan aku adalah salah satunya. Seharusnya mereka yang
menurutku memiliki potensi yang lebih, mereka pandai berbicara di depan,
seharusnya dengan itu mereka akan lebih bisa menjalankannya dibanding aku. Bisa
dibilang mereka lebih sedikit hambatan daripada aku. Tetapi apa, yang dipilih
Allah adalah aku. Dan keputusan Allah tetap tidak bisa diganggu-gugat oleh
siapa pun. Maka dari itu aku selalu percaya, bahwa Allah memasukkan aku di sini
bukanlah tanpa tujuan yang pasti. Entah Allah akan menjadikan aku apa di masa
depan nanti, aku hanya bisa menerka-nerka sekarang, sembari memenarakan usaha
dan munajatku sampai ke Arasy-Nya. Bahwa takdir terakhir hanyalah di tangan
Allah semata.
Hari demi hari kulalui. Alhamdulllah, kurasakan sedikit demi sedikit kemajuan kudapati
mulai hinggap di dalam diri. Walaupun terkadang aku masih saja merasakan
tentang kesendirianku di tengah keramaian. Betapa tidak, ketika memasuki kelas
yang suasananya sangat gaduh itu, dan aku yang biasanya memilih bangku di
paling depan, ya, aku sama sekali tidak mengobrol dengan teman, karena aku
duduk sendirian. Apa yang kurasakan? Tak banyak mereka yang paham dan tahu
tentang itu. Mungkin kusebut dengan menikmati sebuah keheningan yang
meraba-rabaku dengan senyumannya yang polos. Sebuah keheningan yang tak pernah
mengenal waktu dan tempat. Dia selalu datang kapan pun dan di mana pun
kepadaku.
Di suatu ketika, aku memasuki sebuah organisasi.
Tepatnya di Lembaga Pers Mahasiswa. Benarkah? Apa iya aku memilih masuk di
situ. Padahal kalau dicerna, mana mungkin orang sepertiku ini ber-fashion wartawan atau jurnalistik,
lembaga pers, bayangkan untuk apa aku masuk ke sana. Tetapi entah mengapa,
sepertinya ada hal lain yang membuatku sangat tertarik untuk bergabung bersama
kakak-kakak yang hebat-hebat itu. Bahwa terkadang kita merasa sesuatu itu bukan
dunia kita, tetapi kita tidak boleh berpikiran bahwa kita tidak mampu melakukan
apa yang tidak ada dalam dunia kita, kita harus berkata dengan lantang di dalam
hati, bahwa kita pasti bisa menaklukkan dunia itu.
Jangan dikira pendiam tidak punya perasaan yang
serupa yang biasanya dialami oleh teman-teman sebayanya. Dia juga pernah
merasakan cinta. Mungkin memang inilah bedanya dia dengan kebanyakan orang
ketika mempunyai perasaan cinta. Tak ada seorang pun yang tahu perihal itu,
sebab dia sangatlah pandai menjaga rahasia. Dia akan selalu bungkam kepada
siapa pun. Bahkan dia sangat malu mengetahui tentang getaran-getaran yang
sempat dirasakannya ketika berpapasan dengan seseorang itu. Dalam hati dia
berbisik, ‘Untuk apa perasaan itu hadir, padahal belum tiba pada waktu yang seharusnya.’
Hanya berpuisi dan berdendang dengan diary
yang selalu dilakukannya, tidak ada yang lain dari itu. Ketika pendiam jatuh
cinta, dia hanya akan menceritakan gumpalan yang ada dalam hatinya kepada
Allah. Di buku harian dan bait-bait puisinya pun, dia tak pernah menyebutkan nama
atau pun siapa orang yang telah berhasil membuat hatinya luluh itu, tentunya
bukanlah sembarangan. Dia adalah aku.
Pernah suatu ketika aku salah kaprah dalam
memaknai sebuah senyuman yang berlalu di atas mataku. Senyuman itu kutemukan
hanya sekali dalam seumur hidupku. Dan rupanya ada percikan lain yang hadir di
sela-sela jiwa, yang entah berasal dari mana. Yang kutahu, ketika pertama
kalinya aku mendapati seberkas senyuman, ‘deg,’ jantungku terasa mau lepas dari
singgasananya. Ya Rabana, apa yang membuat paru-paruku seakan mau melompat.
Perihal tarian bibir yang mengada-ngada adanya. Oh aku sangat bingung untuk
menegakkan sebuah tafsir di hatiku ini. Aku lemah jika harus berhadapan dengan
sebuah perasaan. Dan lagi-lagi aku tak mampu untuk mengungkap fakta itu kepada
siapa pun. Aku hanya mampu memendamnya di antara kebisuan rasa. Biarlah hilang
saja, bahwa seiring berjalannya waktu, kuyakin rasa aneh itu pun akan berakhir
dan terhempas seperti yang sudah-sudah.
Namun ketika semakin lama dan semakin sering aku
berada di dalam sebuah kebersamaan dengan orang itu, ah rupanya biasa saja.
Hingga aku bertanya-tanya, ke mana hilangnya senyuman itu? Kenapa hilang?
Kenapa tidak kutemukan lagi? Di saat dia tersenyum pun sekarang, rasa-rasanya
itu beda, tidak ada yang seistimewa senyum yang pernah menjeratku dahulu. Ah
rupanya senyuman yang dahulu itu adalah limited
seat, tidak akan kujumpai lagi yang sama. Dan benarlah yang kuduga.
Perasaan pun hilang. Dan aku tidak tahu kapan tepatnya dia minggat. Yang jelas,
tiba-tiba saja tak ada kabar dan tidak bisa dihubungi lagi.
Begitulah cinta, cinta yang dialami oleh seorang
introver. Introver sering jatuh cinta, tetapi tak satu pun orang yang pernah
dijatuhi perasaan itu tahu. Dari masa awal cinta mulai bersemi hingga
daun-daunnya berguguran, hanya aku sendiri yang merasakan, tanpa sesiapa pun
berhasil membongkar yang terpendam. Terkadang aku begitu menyukai kediamanku
ini, ada kalanya itu terjadi. Sebagai manusia yang terlahir dengan sifat yang
seperti ini, aku cukup bersyukur, setidaknya aku tidak terlalu banyak menambah
dosa. Jika saja aku tertakdir menjadi seorang ekstrover, sangat mungkin aku
akan mengaktulisasikan perasaan-perasaan dan cinta demi cinta yang pernah
singgah di hatiku ini dengan berpacaran, naudzubillah.
Aku begitu bersyukur, sampai usiaku yang sudah hampir kepala dua ini, aku belum
pernah melakukan hal yang menjadi larangan agama itu. Terima kasih Ya Allah,
aku paham, bahwa diam tidak selalu buruk, ada banyak nilai positif yang dapat
dipetik dari sebuah kisah kediaman seorang insan.
Beranjak dari masalah cinta. Hari demi hari
kuhabiskan di universitas tercintaku ini. Relasiku sudah banyak sekali bertambah.
Tinggal bagaimana aku akan mengelolanya agar bisa selalu utuh sampai
pengakhiran nanti. Perjalanan waktu telah tiba, perkuliahan di semester
pertamaku pun selesai jua. Syukurlah, nilaiku cukup baik, dan aku harus lebih
baik lagi nanti di semester selanjutnya. Setengah tahun telah berlalu. Tak
terasa ternyata sudah setengah tahun lamanya aku menjadi seorang perantau.
Sudah setengah tahun aku melepaskan jabatanku sebagai seorang anak sekolahan
yang polos, sudah setengah tahun aku menyandang gelar sebagai ‘mahasiswa.”
Memang tidak disangka-sangka, aku telah menyelesaikan agenda pertamaku di
perkuliahan ini. Waktu kepulangan yang telah sekian lama aku damba akhirnya
menunjukkan batang hidungnya juga, aku pulang. Selamat tinggal semester
pertama, selamat tinggal gelar mahasiswa baru, sampai jumpa di semester dua nanti
universitasku. Aku akan pulang dahulu sejenak untuk merehatkan kepenatanku. Aku
ingin menyambangi keluargaku di kampung halaman. Aku ingin memekarkan banyak
waktu bersama mereka, mengobati kerinduan, dan menceritakan segenap kisah yang
telah membersamaiku selama aku di perantauan.
Surakarta, 23 Februari 2018
Kacamata Musafir
Komentar
Posting Komentar