Jalan menggapai mimpi itu tidaklah terjal. Mungkin engkau
hanya terlalu lengah. Menggelimangkan waktu-waktumu begitu saja tanpa sebuah
karya. Ini kisah, ketika bakat terpendam akan tetap terpendam sebab tak dilatih
dan dikembangkan. Padahal itu anugerah lekatan dari Tuhan. Padahal ia emas yang
terkubur di hati-hati suci yang terserak pundi-pundi brillian di sela-selanya.
Oh sungguh malang bila potensi itu dibiarkan begitu saja dan
saja. Ketika rasa malas tetap bertahta seenaknya dan menghambat sesuatu yang
seharusnya terjadi. Menjadi yang berguna adalah sebuah pilihan. Jika seseorang
tak mampu menuangkan kepedulian melalui uluran tangan atau pun yang serupa itu.
Kita masih punya jemari lugu yang siap menyisipkan sebagian pemikiran di
huruf-huruf pribadi yang terserak di dada. Dia ada.
Menulis bukan pula hal yang mudah. Karena ia bagaikan
menanam, ya, menulis adalah menanam benih-benih indah yang kelak akan bisa
dipetik hasilnya. Bukan hanya diri sendiri, namun orang lain pun bisa merasakan
manfaatnya. Apakah sedekah tulisan itu ada? Ya, kubilang ‘ada’. Aku yakin,
tulisan itu memiliki aura yang melebihi yang terlihat dari luarannya. Seseorang
yang sudah tenggelam dalam sebuah bacaan yang diarunginya, pemikiran dia pun
bisa mengalir menjauh dari opininya sendiri.
Maka menulislah, menulislah yang cerah, karena potensimu di
situ. Kau bukan olahragawan, kau bukan pegulat angka-angka, kau bukan penggarap
lahan-lahan gersang, tetapi kau adalah seorang mahasiswa Bahasa Indonesia.
Berbanggalah, karena menulis mungkin adalah makanan sehari-harimu, mengarang
dan menyetorkan buah pikiran ke dalam sebuah esai. Ya, kau harus mahir di situ.
Kalau kau sadar, potensimu akan sirna jika tak kau kembangkan mulai dari
sekarang juga. Bangkitlah! Kau bisa!
Surakarta, 12 November 2017
Novy D Safika

Komentar
Posting Komentar